Diantara Sejarah dan Politik

Berpacu menjadi yang terbaik

Tentang Saya

    Selamat Datang di Blog Muhammad Fatkhan Ashari..... Berbagi Pengetahuan "Diantara Sejarah dan Politik"...... Semoga Bermanfaat.....

    Lahir di Kendal pada tahun 1987. Mengenyam pendidikan dasar hingga menengah di daerah kelahiran. Menempuh jenjang Sarjana (S1) Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Semarang. Melanjutkan jenjang Magister (S2) Ilmu Politik di Universitas Airlangga Surabaya.

Galeri

Perhatian

    Pengunjung yang Terhormat, Silahkan tinggalkan saran dan/atau kritik yang membangun guna perbaikan dan kebermanfaatan bersama pada kolom komentar yang tersedia. Terima Kasih

Pununjuk Waktu

--Muhammad Fatkhan Ashari--

Kebudayaan Palaeolithikum

diposting oleh fatkhan-ashari-fisip11 pada 30 May 2012
di b. Sejarah - 0 komentar

Kebudayaan Palaeolithikum (Palaeo = tua, Lithos = batu) disebut sebagai kebudayaan Batu Tua. Hasil kebudayaan Palaeolithikum banyak ditemukan di daerah Pacitan (Jawa Timur) dan Ngandong (Jawa Timur). Untuk itu para arkeolog sepakat untuk membedakan temuan benda-benda prasejarah di kedua tempat tersebut yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.

Untuk mengetahui bentuk kebudayaan Pacitan perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar tersebut merupakan peninggalan zaman Palaeolithikum yang ditemukan pertama kali oleh Von Koenigswald tahun 1935 di Pacitan dan diberi nama dengan kapak genggam, karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam.
Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, dalam ilmu prasejarah disebut chopper artinya alat penetak. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi dari batu sampai salah satu sisinya menajam dan sisi lainnya apa adanya sebagai tempat menggenggam.
Pada awal penemuannya semua kapak genggam ditemukan di permukaan bumi, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti berasal dari lapisan mana. Berdasarkan penelitian yang intensif yang dilakukan sejak awal tahun 1990, dan diperkuat dengan adanya penemuan terbaru tahun 2000 melalui hasil ekskavasi yang dilakukan oleh tim peneliti Indonesia-Perancis diwilayah Pegunungan Seribu/Sewu maka dapat dipastikan bahwa kapak genggam/Chopper dipergunakan oleh manusia jenis Homo Erectus. Daerah penemuan kapak perimbas/kapak genggam selain di Punung (Pacitan) Jawa Timur juga ditemukan di daerah-daerah lain yaitu seperti Jampang Kulon, Parigi (Jawa Timur), Tambang Sawah, Lahat, dan KaliAnda (Sumatera), Awangbangkal (Kalimantan), Cabenge (Sulawesi), Sembiran dan Terunyan (Bali).

Untuk lebih memahami lokasi penyebaran kebudayaan Palaeolithikum perhatikan gambar peta berikut ini.

Di sekitar daerah Nganding dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur) ditemukan kapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk. Alat-alat dari tulang tersebut bentuknya ada yang seperti belati dan ujung tombak yang bergerigi pada sisinya. Adapun fungsi dari alat-alat tersebut adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkap ikan.

Untuk lebih jelasnya tentang alat-alat ini maka amati gambar berikut ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain alat-alat dari tulang yang termasuk kebudayaan Ngandong, juga ditemukan alat alat lain berupa alat alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih. Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon. Untuk mengetahui bentuk flakes maka amatilah gambar berikut ini.

Flakes mempunyai fungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya, mengiris daging atau memotong umbi-umbian. Jadi fungsinya seperti pisau pada masa sekarang. Selain ditemukan di Sangiran flakes ditemukan di daerah-daerah lain seperti Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong (Jawa), Lahat (Sumatera), Batturing (Sumbawa), Cabbenge (Sulawesi), Wangka, Soa, Mangeruda (Flores).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :